Proyek jembatan ini akankah selesai?

Sekedar berbagi cerita….barangkali saja ada yang mau menanggapi.. :D

Sekitar 2 minggu yang  yang lalu seluruh pekerja di proyek tempat kerja dikagetkan lagi oleh tragedi pelemparan batu pada mobil proyek oleh orang kampung setempat.  Kejadian ini merupakan kejadian yang ketiga dalam kurun waktu 3 bulan. Kejadian yang pertama membuat kaca depan sebuah truk proyek pecah dan mengakibatkan luka di kepala seorang asisten sopir yang duduk di depan saat terjadi pelemparan batu itu.  Satu kejadian yang lainnya juga mengakibatkan kaca mobil pecah tapi tidak sampai mengakibatkan korban luka. Siapa sebetulnya pelaku pelemparan batu ini?Sampai sekarang belum ada yang tahu. Ini sebetulnya merupakan pertanyaan besar kami sebagai pelaksana proyek pembangunan 6 jembatan di pulau ini.

Agar ada sedikit gambaran, baiknya saya cerita sedikit tentang proyek ini. Proyek negara ini merupakan didanai oleh bantuan hibah pemerintah Jepang, dibawah pengawasan JICA, dan di laksanakan oleh sebuah perusahaan kontraktor dan sebuah konsultan yang keduanya juga dari Jepang. Proyek pembangunan jembatan ini terbentang mulai dari utara sampai selatan sejauh kurang lebih 200 KM, di 6 titik (6 jembatan). Proyek ini mulai dilaksanakan sekitar bulan maret tahun lalu dan rencana berkahir sekitar bulan mei tahun depan. Saya sendiri mengikuti proyek ini tidak dari awal, jadi tidak tahu persis keadaan kondisi sebelumnya. Yang jelas beberapa hari setelah saya masuk ke site, gelagat akan timbulnya berbgai permasalahan sudah tercium. Mulai dari permasalahan pungutan liar dari oknum dan gangguan dari tangan-tangan jahil terhadap fasilitas, alat-alat dan mobil-mobil proyek.

Yang paling saya soroti adalah masalah pungutan, walaupun mungkin di dunia proyek yang namanya pungutan adalah hal yang sudah biasa. “Kalau kita gak bayar, mobil-mobil kita gak akan bisa jalan Pak” Begitu seorang staff menjawab pertanyaan saya ketika saya tanya kok begitu mudahnya mengeluarkan uang sedemikian besarnya untuk hal seperti itu “Semacam uang keamanan jugalah, Pak” begitu sambungnya. Hmm…entahlah, mungkin karena saya belum terbiasa dengan dunia seperti ini, tetap saja saya merasa ini adalah sebuah ganjalan. Belakangan baru tahu juga bahwa kepada aparat yang lain (angkatan) juga diberikan uang keamana rutin. Pembayaran menjadi membengkak setelah kejadian pelembaran batu terhadap mobil proyek untuk yang pertama kali. Aparat, setelah kejadian itu memanggil beberapa dedengkot biang kerok di sekitar kejadian itu, dan merekrut mereka untuk mengamankan daerah sepanjang 3 titik lokasi dimana jembatan di bangun (bagian selatan pulau). Uang keamanan ini sebagian diberikan kepada preman-preman sebagai imbalannya. Hmm… teori lama dan mudah : pelihara biang kerok dan kasih uang untuk mengamankan.Adadua keuntungan yang didapat, pertama aparat tidak perlu kerja dan kedua biarkan bentrok kalau ada preman yang lain yang menjadi biang kerok juga. Keributan sempat terjadi, walau tidak sampai terjadi perkelahian, adu mulut antargenkpernah terjadi karena perebutan daerah kekuasaan dan ingin kebagian uang keamanan.

Apa hasilnya setelah mengeluarkan uang tidak sedikit yang katanya untuk keamanan ini? Tidak ada! Malah pelemparan kaca mobil yang kedua terjadi. Apa kata aparat?Kesalahan ada pada kami karena kurang koordinasi, begitu katasuratresmi dari mereka jawaban atas surat pengaduan kami (ada koordinasi berarti ada uang, koordinasi = uang :D ). Siapa pelakunya?masih gelap, yang jelas tidak ada gelagat aparat untuk mengusut kasus ini. Dan kasus ketiga pun terjadi. Kaca belakang mobil pecah, sopirnya selamat. Beruntung si sopir bisa mengontrol kendali saat terjadi pelemparan, kalau tidak mobil bisa nyelonong ke sisi kanan badan yang tidak lain jurang menganga, bisa berakibat fatal. Tidak ada terlihat gelagat aparat untuk mengusut kasus ini. Sementara para pegawai sudah ketakutan dan tidak mau lagi pergi ke daerah selatan mengemudikan mobil atau truck mixer, sebagian malah mengundurkan diri dan pulang ke kampung mereka di Jawa. Capek..deh..

Berbagai spekulasi pun muncul. Ini rekayasa, orang kampung ada yang menyuruh, begitu sabagian berspekulasi. Atau bahkan ada yang berspekulasi ini perhelatan antar aparat, menyangkut daerah teritorial dan kekuasaaan. Hmmm wallahu’alam. Saya tidak berani berspekulasi terlalu jauh ke situ.

Adahal-hal yang tidak saya mengerti. Seharusnya ada dukungan dari masyarakat, aparat pemerintah dan aparat keamanan setempat untuk proyek-proyek semacam ini. Alih-alih mendapat dukungan, malah yang ada pengrusakan alat-alat berat, dan pencurian bahan-bahan oleh masyarakat, pemerasan oleh aparat dan lain-lain. Kami tidak sedang merusak alam disana, atau mengambil kekayaan alam disana untuk kemudian hasilnya diangkut ke pulau jawa dengan meninggalkan kerusakan alam dan kemelaratan rakyat di sekitarnya seperti yang sering terjadi di sekitar proyek galian tambang, minyak atau gas, yang sering meninggalkan permasalahan kesejahteraan penduduk sekitar proyek. Saya tidak mengatakan semua pungutan liar itu harus diarahkan ke proyek-proyek tersebut, tentunya tidak. Bagimanapun pungli adalah pungli tetap harus dihilangkan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa proyek ini adalah untuk kepentingan masyarakat setempat pula. Kalaupun tidak ada dukungan, tidak ada gangguan pun sudah cukup bagi kami sebagai pelaksana proyek ini agar berjalan sesuai rencana. Ini adalah proyek negara. Kami hanya pelaksana pekerjaan. Keamanan dan keselamatan kelangsungan pekerjaan adalah tanggung jawab negara, dalam hal ini aparat dan perangkat keamanan negara bertugas mengamankan. Sehingga biaya operasional kemananpun menjadi tugas negara. Logika yang sangat sederhana dan mudah dipahami. Tapi pada kenyataanya untaian kata ini rumit dan sulit pengejawantahannya bagi para pelaksana di lapangan.

Sulitnya memahami logika ini, sebagaimana sulitnya masyarakat (di pulau ini saja?) memahami bahwa proyek ini adalah proyek bantuan hibah yang harus didukung kelancarannya. Logika ini terlalu rumit bagi sebagian besar masyarakat di sini.  Menurut sebuah data, sebagian besar desa di pulau ini tergolong desa tertinggal. Bagi masyarakat ini yang paling mudah dipahami adalah : “Ada proyek berarti ada uang dan kita harus kebagian uangnya”. Belakangan ada kisah lucu, seorang warga mengadu karena area sekitar rumahnya dekat jembatan tidak termasuk area pelebaran jalan. Dia kecewa karena tidak seperti tetangganya yang mendapat ganti rugi karena terkena pelebaran jalan sedangkan rumah dia tidak terkena pelebaran dan protes..he,,he,, aya-aya wae

Mata pencaharian sebagian besar penduduk pulau ini adalah bertani kelapa, pisang dan ubi . Walaupun di kota kita masih bisa melihat mobil-mobil mewah berseliweran  pendapatan masyarakatnya masih tergolong rendah. Permintaan papan pengumuman untuk dialihbahasakan ke bahasa daerah dari bahasaIndonesia, cukup membuktikan bahwa anggota masyarakat yang tidak bisa bertutur dengan menggunakan bahasaIndonesia, tidak sedikit.

Setiap bulan ada 2-3 kasus seperti disebutkan di atas terjadi. Entah sampai kapan akan berkahir. O iya, perlu diketahui, bahwa sebelum proyek ini berjalan, 2 tahun yang lalu ada sebuah perusahaan konstruksi yang mengerjakan proyek jalan aspal, perusahaan yang berinisial JK (tidak ada hubungan dengan JK mantan wapres) terpaksa harus angkat kaki dari pulau ini sebelum proyek selesai, setelah terjadi pembakaran pada alat berat mereka oleh penduduk setempat. Permasalahan initinya saya tidak tahu persis, sepertinya awalnya tidak jauh seperti masalah yang sedang kami alami sekarang ini. Walaupun hati kecil saya berharap proyek ini bisa selesai apapun yang terjadi di pertengahannya, saya harus siap kalau pemerintah Jepang menghentikan proyek ini apabila terjadi sesuatu yang lebih fatal dari yang pernah terjadi selama ini, sampai terjadi korban jiwa misalnya, naudzubillah himindzalik. Seperti yang pernah dikatakan project manager saya, bahwa saya harus siap apabila keadaannya seperti itu.

Jembatan-jembatan dengan system “diaphragm abutment” ini dirancang integrated penuh antara steel girder dengan rancang pondasi abutmentnya, memungkinkan absorpsi muatan seismic yang diterima jembatan tatkala diterma tsunami atau gempa, dirambatkan langsung ke embankment yang berada di wingwall jembatan tersebut, sehingga jembatannya sendiri relatif lebih tahan. Jembatan dengan tipe seperti ini sangat cocok untuk daerah rawan gempa dan tsunami. Jembatan tipe ini mungkin akan yang pertama di Indonesia. Sayang kalau pembangunannya terhambat karena hal-hal seperti tersebut di atas.

Akankah proyek ini nasibnya seperti proyek yang dilaksanakan oleh JK?…Saya sendiri tidak tahu pasti..

Hmm….

Waktu telah menunjukkan pukul 21:50. Tiba-tiba hape saya berbunyi tanda ada yang nelfon.

“Halo Pak, Hanya mau ngasih tahu, telah terjadi lagi pelemparan batu ke mobil truk kita, kaca mobil depan hancur, tapi Alhamdulillah supirnya selamat, hanya luka ringan di tangan….” Suara salah seorang staff saya dari sebelah sana.

Hmmm…yang keempat kali…..

Capek gan…..

 

Jum’at 17 Juni 2011

 

 

** 

-Pencurian besi adalah yang paling sering

-Pengrusakan alat di batching plant dan pengrusakan generator adalah yang paling fatal

-Pelemparan batu pada mobil adalah yang paling menakutkan (bagi para sopir, makanya sebagian mutung minta dipulangkan)

-Pengambilan besi beton bekas oleh anak-anak kecil adalah yang paling membahayakan sekaligus memilukan

Satu Tanggapan

  1. Ngiring ngomen yan, mungkin yanyan baru sedikit pengalaman proyek di Indonesia tercinta….loba teuing diluar hehe. Kebetulan saya banyak pengalaman kerja di seluruh Indonesia dari Barat hingga ke Timur, pernah dilempar batu, pernah dihentikan, dll. Jawabannya cuma satu…berdayakan masyarakat lokal..batasi pekerja dari jawa. Dekati para sesepuh kampung mun bisamah dibere gajih. Jadi tukang sasapu ge atoheun manehna mah.

    Saat ini saya lagi kerja untuk PLTA di Payakumbuh, tidak jauh dari Nias, mungkin sifat mereka tidak terlalu jauh. Tempo hari kita sempat ditolak untuk masuk lokasi, jawabannya juga cuma satu…mereka minta dilibatkan. Alhamdulilah sekarang mah lancar.

    Nuhun ah.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.