Pencurian Seismograf & Buoy : refleksi dari berbagai dimensi

Oleh : Y. Agustian

Baru-baru ini kita dikagetkan oleh berita hilangnya seismograf di salah satu stasiun pengamatan Gunung Merapi di daerah kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Walaupun para pencurinya sekarang sudah diamankan dan sedang menuju proses pengadilan, perasaan greget, kesal, muntab dan sejenisnya tetep saja memenuhi benak dan pikiran saya. Kenapa hal seperti ini terus terjadi?. Masih belum hilang dalam ingatan kita, kasus pencurian Buoy, alat pendeteksi tsunami yang diletkakkan di lepas pantai Sumbar-Sumut. Alat pendeteksi dini tsunami hasil kerjasama anak bangsa, orang-orang BPPT, dan Jerman ini dilarikan ke arah barat pesisir pantai Sumut  oleh kawanan maling dan ini diketahui oleh satelit pemantau TEWS (Tsunami Early Warning System) di Jerman yang dilaporkan kepada BPPT. Padahal, menurut penuturan Koordinator Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) wilayah Sumbar, Ir Ade Edward yang dikutip oleh POSMETRO, Kamis (23/03/2006),  Buoy tersebut adalah alat pemantau tsunami tercanggih di dunia. Bahkan kalau dibandingkan dengan alat pemantau tsunami milik Jepang sekalipun, alat ini jauh lebih canggih. Karena sistem kerja Buoy ini sangat aktif, berbeda halnya dengan pemantau tsunami lain yang bersifat pasif. Informasi sekecil apapun dikirimkan alat ini ke satelit, sehingga pergerakan gelombang laut diketahui setiap saat.

Kasus-kasus pencurian kabel telkom, kabel listrik dan besi rel kerata api adalah contoh-contoh kasus lain yang tak sama tapi serupa. Entah sampai kapan kejadian pencurian alat-alat milik negara yang menyangkut kepentingan dan kesalamatan orang banyak ini akan berhenti. Entah apa pula yang hal sebenarnya yang melatarbelakangi para maling ini beraksi bahkan sampai pada alat-alat strategis seperti ini.  Kalaulah para pencuri in melakukannya karena iseng, mungkin harus diberi hukuman yang berat sehingga menimbulkan efek jera bukan saja untuk dirinya tapi juga bagi yang lain yang hendak mencoba bermain-main dengan keselamatan orang banyak. Faktor ekonomi? karena terpakasa untuk membeli sesuap nasi? Sunggih miris kalau kenyataannya seperti ini. Bagaimana tidak, alat-alat  canggih seperti disebutkan di atas adalah alat-alat berteknologi tinggi dan berharga mahal, alat  yang bisa membantu “menyelamatkan” ribuan nyawa orang, oleh para pencuri ini akan dihancurkan kemudian diperlakukan layaknya besi tua dikilo dan dihargai dengan  uang seharga beberapa piring nasi dan lauknya.

Memang dari beberapa kasus yang terkuak, apapun alasannya,  alasan ekonomi, iseng ataupun hobi mencuri, mereka semua dilandasi ketidaktahuan akan fungsi alat-alat yang mereka curi itu. Para pencuri Buoy tidak menyadari kalau pada Buoy terpasang alat yang memungkinkan buoy itu sendiri dapat terpantau oleh stasiun pemantau kemanapun perginya, sehingga pergerakan yang terlalu jauh dari asalanya , yang dicurigai digerakan manusia dapat terdeteksi seperti pada saat dicuri tersebut.

Mengapa masyarakat sampai tidak tahu seluk beluk alat-alat tersebut? Jawaban yang paling mungkin adalah : Sosialisasi tentang alat-alat ini kepada masyaraka luas sangat kurang. Lebih jauh mungkin sosialisasi tentang bencana alam dan seluk beluknya termasuk didalamnya tentang penanggulangan dini, apa yang harus dilakukan tatkala terjadi sebuah bencana alam dan hal-hal lainnya. Saya sendiri yakin instansi-instansi terkait sudah dan sedang melakukan sosialisi-sosialisi seperti ini hanya mungkin belum optimal sehingga tidak menjangkau seluruh lapisan masyarakat sampai ke pelososk-pelosok desa.

Untuk hal keteraturan dan kerapihan dalam mitigasi dan managemen bencana alam, negara Jepang harus diakui ada di garis terdepan.  Termasuk di dalamnya adalah sosialisasi tentang bencana alam itu sendiri, fenomena kejadiannya, istilah-istilahnya, alat-alat,  dan lain-lain yang ada hubungannya dengan bencana alam tersebut. Sosialisasi ini bukan saja kepada orang dewasa, bahkan betul-betul sejak dini, kepada anak kecil. Hal ini dialami oleh anak saya yang baru berumur 5 tahun yang sudah masuk di sebuah play group.sejak tahun lalu.  Setiap 6 bulan sekali ada  kunren (latihan) berupa simulasi antara pihak play group yang diwakili oleh guru-gurunya, para anak dan orang tua. Simulasi ini memperagakan seandainya ada gempa terjadi betulan, apa yang harus dilakukan oleh pihak sekolah, beserta anak dan begitu juga orang tua dari anak-anak ini yang kebetulan sedang melakukan aktifitas sehari-hari, bekerja misalnya.  Sederhana, tapi sosialisasi ini bagus juga sekaligus menjadi pendidikan bagi anak saya. Anak saya jadi tahu istilah gempa, kemana harus berlindung kalau ada gempa dan lain-lainnya.

Di masyarakat kita, istilah tsunami baru benar-benar memasyarakat setelah terjadi bencana besar tsunami tahun 2004 itu. Kecuali orang-orang yang bergelut dengan ilmu geologi dan ilmu sekerabatnya sajalah yang tahu proses terjadinya tsunami dan bahaya tsunami. Yaitu tadi sosialisi tentang tsunami sebelum terjadinya bencana tsunami itu sangatlah kurang, hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan perguruan tinggi. Di jepang sosialisasi berbagai bencana alam dengan berbagai penanggulangannya mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling sulit dilakukan secara sistematis dan mudah dimengerti oleh masyarakat. Menyeluruh menyentuh setiap lapisan masyarakat sampai ke pelosok desa, mulai dari anak-anak sampai orang tua dangan bahasa yang mudah dimengerti.

Adalah menjadi tugas intansi-intansi terkait bekerja sama dengan aparat pemerintah sampai lapisan terbawah untuk memberikan sosialisi-sosialisai semua hal tentang seluk-beluk tentang bencana alam ini. Media masa baik elektronik ataupun cetak sudah semestinya  turut dalam menyukseskan program-program sosialisasi ini sebagai bentuk kesadaran dan sumbangan untuk turut memberikan pencerahan kepada masyarakat. Para akademisi dan para peneliti mungkin sudah saatnya untuk turun gunung, tidak saja hanya menyepi di lab melulu melakukan penelitian (masih mending deng dari pada sibuk ngobjek….penelitian dilabpun terlantar..🙂 ), tapi juga menulis di media-media nasional atau apapun bentuknya, yang jelas menyumbangkan pemikiran memberikan pencerahan kepada masyarakat awam khususnya tentang bencana alam dan seluk beluknya. Dengan  kata lain para akademisi dan para peneliti ini termasuk di dalamnya para dosen, harus bisa membumikan bahasa enjlimet ilmu pengetahuan yang dimilikinya  ke dalam bahasa yang paling mudah yang bisa dimengerti oleh masyarakat awam sehingga masyarakat tercerahkan.

Kembali lagi ke masalah pencurian seismograf tadi, pada akhirnya bicara masalah pencurian, tidak lepas dari masalah mental. Apapun alasannya, mencuri tidak dapat dibenarkan. Hak orang lain tetap menjadi hak orang lain. Hanya karena terlihat seperti tidak bertuan, tidak lantas menjadi otomatis menjadi milik aku sendiri. Walaupun misalanya nggak ketahuan kambing siapa, mentang-mentang masuk ke halaman rumah kita terus kita tangkep tuh kambing terus disembelih, inipun nggak boleh..he..he…gak nyambung :)  Ada tidaknya mental seperti inilah yang akan memepengaruhi mencuri atau tidaknya seseorang. Masalah sulit nya ekonomi tidak akan pernah menjadikan mencuri menjadi hal yang benar.   Walaupun bisa jadi karena sebuah alasan hukumannya akan menjadi ringan, atau bahkan tidak dihukum. Yang jelas mencuri adalah mencuri. Seperti yang pernah terjadi pada saat Umar r.a menjadi Khalifah. Kasus pencurian terjadi pada saat musim paceklik, orang serba susah pada saat itu. Umar r.a tidak menjatuhkan hukuman potong tangan, malah beliau membebaskan si pencuri itu. Dan tindakan selanjutnya  yang diambil Umar r.a adalah memanggil semua gubernur untuk membicarakan jalan keluar supaya tidak terjadi kasus pencurian lagi.

Maka itu, mengadili dan menghukum para pencuri itu sangatlah mudah. Akan tetapi yang harus kita lukakan bukan saja menghukum dan mengadili pelaku pencurian itu, tapi bagimana agar tidak terjadi kasus serupa atau paling tidak menekan angkanya, dengan memberikan pencerahan dan pendidikan secara sitematis dan terpadu dari berbagai instansi dan orang-orang terkait kepada masyarakat luas dalam bahasa yang paling mudah dimengerti oleh mereka.

Wallahu’alam

————————————————————

tambahan

Test :

Coba tanya kepada masyarakat awam di kita apa itu likuifaksi? Saya bisa berspekulasi mereka tidak akan bisa menjawab.

Coba juga tanya kepada orang jepang kata yang sama (bahasa jepangnya : ekijouka), Saya juga berani berspekulasi  mereka akan bisa menjawab walaupun dengan bahasa yang sangat-sangat sederhana (karena saya pernah bertanya kepada beberapa orang awam di jepang🙂 ). Meraka tidak perlu mengetahui apa itu pore water pressure, cyclic loading dll, yang jelas mereka menjawab tidak keluar dari definisi umum apa likuifaksi itu sendiri. Ini adalah contoh sosialisasi  yang berhasil dari para ilmuwan jepang kepada masyarakatnya dalam bahasa yang mudah yang dimengerti oleh orang awam sekalipun.

Anda tahu likuifaksi?

Jawabnya bisa dicari di google atau disini🙂

Satu Tanggapan

  1. mas, aku pengen belajar wordpress, tapi kok susah ya..???
    ni lagii blogger aja, btw tukeran link gitu naikin PR gag????
    thx,.,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: