Lelaki tua itu

Lelaki tua itu badannya kurus dan tidak lagi lurus alias bungkuk. Jalannya pun sangat lambat seperti menahan rasa sakit. Tidak ada senyum menyungging, sekedar anggukan sebagai jawaban dari sapaan  setiap kali aku bertemu dengannya. Bahkan untuk sekedar menoleh pun sepertinya kesulitan. Lehernya kaku sehingga dia harus memutar badannya demi menoleh tatkala ingin melihat sebuah objek yang berada tidak tepat di depannya. Tidak tahu pasti penyakit apa yang diderita lelaki tua itu. Setiap pagi hanya terlihat dia dijemput oleh seorang perawat dengan menggunakan mobil jemputan. Mobil jemputan dari sebuah panti jompo atau pusat rehabilitasi atau sejenisnya.

Sering aku merasa iba melihatnya. Betapa tidak, jalannya yang tertatih-tatih, tiap pagi harus turun tangga tatkala mobil jemputan tersebut datang, dan naik tangga lagi sekitar pukul 4 sore tatkala pulang masuk rumah. Ya dia harus naik turun tangga karena dia tinggal di lantai 5 tepat di atas lantai kamar apartemenku. Sering pikiran usilku mengusik, siapa gerangan anak cucunya yang tega  menelantarkan dan membiarkan hari-hari si pak tua ini untuk dihabiskan di rumah sejenis panti jompo itu. Adik, kakak atau saudara terdekatnya, dimanakah mereka? Ah tak taulah, barangkali aku memang usil, siapa tahu mereka memang ditkadirkan untuk tidak mempunyai keturunan, sehingga mungkin sudah menjadi nasib mereka untuk menghabiskan masa tua mereka hanya berdua seperti itu.

Demikianlah hampir setiap hari aku melihat rutinitas lelaki tua itu, diantar jemput istrinya naik turun tangga sampai depan mobil. Sampai suatu hari aku merasa kehilangan karena dia tidak tampak seperti biasanya. Sekitar seminggu kemudian aku baru mendengar kabar bahwa si pak tua itu telah meninggal, setelah sebelumnya beberapa hari dirawat di rumah sakit. Sedih juga aku mendengarnya. Tidak sempat aku mengenalnya lebih jauh. Hanya rutinitas pagi dan sorenya itu yang sering aku lihat, tidak lebih. Kasihan si pak tua itu, meninggal dalam kesepian. Aku tidak pernah melihat seseorang bertamu atau berkunjung ke apartemennya kecuali perempuan si penjemput dari panti jompo itu.

Munkin lelaki tua itu adalah gambar kecil mewakili fenomena umum yang aku lihat, kehidupan para lansia di Jepang yang hidup menyendiri jauh dari sentuhan para sanak saudara sehingga panti jompo dan lembaga sejenisnya adalah tempat kembali mereka. Atau lebih mengenaskan, para lansia ini meninggal di apartemen dan baru di ketahui setelah beberapa hari kemudian karena tidak ada sanak saudara atau kerabatnya yang mengetahuinya. Berita seperti ini sering dijumpai di koran-koran atau berita televisi.

Kita biasanya hanya menemukan hal-hal yang baik-baik dari tulisan-tulisan yang sering kita jumpai tentang jepang dan kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya. Sebagai suatu bangsa dan penganut sebuah kebudayaan, masyarakat jepang pun mempunyai hal-hal negatif yang tidak bisa kita tiru (sebagai bangsa Indonesia dan orang yang beragama). Subjektif dan relatif memang, karena ini hanya berdasarkan penilaian dan hasil pengamatanku sendiri, terlebih perbandingan nilainya dari sisi agama yang aku yakini. Aku melihat ikatan emosianal anak kepada orang tua, orang yang pernah melahirkan, mendidik, membiayai hidupnya sampai dewasa, sangat kurang. Sudah menjadi hal yang umum bahwa seorang yang sudah dianggap dewasa, orang jepang akan keluar rumah kemudian mencari penghasilan sendiri, bekerja atau arubaito dan datang hanya sewaktu-waktu saja atau bahkan tidak pulang sama sekali. Pada saat seperti ini hubungan emosional tadi perlahan-lahan akan hilang dan yang ada hanya sebatas hubungan formal anak-orang tua  secara hukum. Pada saat ini seorang anak tidak akan pernah datang kecuali pada saat diperlukannya tanda tangan atau persetujuan orang tua tentang suatu hal, misalnya kontrak apartemen, keperluan sekolah, pengurusan warisan dan lain-lainya yang ada hubungannya dengan adimistrasi dan sejenisnya. Diluar itu tidak ada.

Aku melihat ada nilai positif dari pepetah sunda “bengkung ngariung bongkok nagaronyok” yang mungkin sepadan denagn arti dari “mangan ora mangan sing penting kumpul“. Sering berkumpul, bergumul, reuni keluarga dan sejenisnya adalah kebiasaan-kebiasan yang menurutku mempunyai nilai positif sehingga selalu terjalin hubungan emosional diantara anggotanya dan tersambungnya tali silaturahmi secara kontinyu. Hal ini tidak akan pernah kita jumpai di masyarakat Jepang. Fenomena seperti si lelaki tua itu bukan yang hal yang aneh yang bisa kita jumpai di masyarakat jepang.

Tentunya bukan sekedar adat dan kebiasaan, kita sebagai umat Islam memahami betul tentang perintah Allah SWT khususnya tentang keharusan berbuat baik kepada orang tua. Maha Suci Allah dan sempurnalah Islam. Allah SWT telah mengajarkan kepada kita lewat Nabi SAW yang tertuang dalam surat Al Isra 23 :

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selin Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibuk bapakmu. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu sekali-kali mengatakan “uf/ah” dan janganlah kamu membentaknya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Bukan saja kita harus memelihara mereka, bahkan kita harus berlemah lembut kepada mereka. bagaimana mungkin orang yang memahami ayat ini akan menelantarkan kedua orang tuanya dalam kesepian hingga meninggalnya……

Kini….

Istri si lelaki tua hidup sebatang kara. Aku menyempatkan mengetuk pintu apartemennya dan mengucapkan bela sungkawa atas kematian pak tua itu kepada istrinya. Kulit wajahnya keriput dan mendung kelabu diwajahnya masih terlihat, menunjukkan kalau dia masih berduka pada saat itu. Pengakuannya umurnya sudah melebihi 75, dia tidak tau pasti. Tidak ada yang lebih, aku hanya menyampaikan kata bela sungkawa dan memberinya sedikit kue, dia berucap terima kasih dan matanya berbinar….aku iba.

Turun tangga dan masuk ke ruang apartemenku, pikiranku melayang, menembus dinding apartemenku, terbang mengarungi pulau-pulau dan lautan. Pikiranku berhenti di satu sosok wajah, wajah lembut seorang perempuan. Perempuan sepuh yang selalu memberikan kesejukan kalbu dari panjatan doa-doanya yang tiada pernah berhenti sepanjang nafasnya. Dia adala ibuku.

Aku menitikan air mata……………

Robighfirli waliwalidaya warhamhuma kama rabbayanii shaghiraa…..

 

3 Tanggapan

  1. aku bangga dengan tulisanmu ini, bos. ada nilai yg tak bisa diungkapkan melebihi sejuta kebanggaanku.
    but aku ikut berbelasungkawa ya,bos. salam hangat selalu


    terima kasih apresiasinya, salam hangat selalu

  2. wah…memang sering kali kita menemukan sesuatu saat memandang dari sudut atau dari tempat yang berbeda….


    iya, semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian di sekitar kita..amin

  3. seringkali rasa kasih itu muncul saat semuanya terlambat, saat kita berada jauh dari seseorang yang sebenarnya kita sayangi. ATau saat dia sudah pergi ke alam lain… semoga kita termasuk bisa memanfaatkan waktu sebaik2nya…


    amiin, terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: