Sikap Dasar tentang Penulisan

oleh Eep Saefullah Fatah

Pengantar
Masa 1992-2002, bagi saya, adalah masa belajar menulis yang mendatangkan banyak hikmah. Dalam rentang waktu itu, 1998-2000 adalah periode krusial di mana kegiatan penulisan berkaitan langsung dengan perubahan politik yang begitu dinamis dan menantang. Setelah periode ini lewat, saya baru tersadar bahwa tulisan demi tulisan ternyata lahir mengalir begitu saja. Saya tidak pernah memikirkan soal ini sampai kemudian dalam sebuah perbincangan di Bandung, Mas Hernowo dari penerbit Mizan, bertanya: Mengapa bisa begitu? Berikut ini adalah semacam jawabannya, dicuplik dari pengantar untuk buku Menuntaskan Perubahan (Mizan, 2000).

Melakukan kegiatan penulisan secara mengalir bisa saya lakukan karena adanya sebuah sikap dasar.

Menulis bagi saya adalah ekspresi personal. Melalui penulisan saya menggunakan hak saya sebagai warga negara untuk menyampaikan pikiran secara bebas. Menulis bukanlah kegiatan publik yang penuh potensi ancaman. Karena itu ketika menulis saya tidak pernah membayangkan akan ada orang yang menuding-nuding saya karena tulisan itu jelek, tak sesuai selera mereka. Ketika menulis, saya tak pernah membayangkan bahwa ada penilai dan pemberi sanksi yang akan memelototi tulisan saya.

Saya berusaha memperlakukan kegiatan penulisan sebagai ekspresi personal yang tak boleh diganggu oleh ancaman penilaian buruk dan sanksi berat. Saya percaya, dengan bersikap seperti ini maka siapapun sebetulnya potensial menjadi penulis. Buktinya, setiap orang bisa menulis di diary-nya dengan lancar, runtut, baik, ekspresif, artikulatif. Ya, ketika orang menulis di diary-nya sendiri ia ada dalam situasi psikolgis yang bebas, tidak merasa sedang diancam oleh siapapun. Ia memposisikan kegiatan penulisan diary-nya sebagai kegiatan ekspresi personal yang tak memerlukan penilai dan pemberi sanksi. Toh, sebuah diary tak akan dibaca orang. Karena itulah ia bisa menulis dengan baik.

Tetapi ketika para penulis diary itu mulai menulis artikel atau laporan yang akan dibaca orang maka jadilah ia penulis yang tesendat-sendat, ekspresinya macet, sulit meruntutkan gagasan, artikulasinya terhambat, dan kerapkali gagal. Sebabnya, mereka mulai menulis sambil pembayangkan para penilai dan pemberi sanksi. Ketika menulis diary mereka memposisikan diri sebagai individu yang bebas, tetapi ketika menulis artikel mereka melakukan reposisi sendiri menjadi individu yang terkerangkeng oleh hantu ancaman yang dibentuknya sendiri. Reposisi inilah yang keliru. Semestinya, ketika menulis apapun orang harus mempertahankan jati dirinya sebagai individu bebas yang berhak mengeluarkan pikirannya.

Saya berusaha membangun terus posisi seperti itu. Boleh jadi, inilah tampaknya yang membuat saya enak saja menulis kolom seperti layaknya menulis di buku catatan harian. Harus saya akui bahwa sikap dasar seperti ini tidak datang begitu saja. Ia dibentuk oleh proses pembelajaran menulis yang cukup panjang.

Dalam periode pembelajaran panjang — yang hingga kini pun masih terus saya jalani — itu, saya kerapkali saya diganggu oleh semacam kekesalan: “Mengapa begitu sulit menuliskan gagasan yang sering sudah kita katakan”. Kerap juga saya disergap semacam rasa heran: Mengapa saya tidak pernah bisa menghasilkan tulisan yang selancar dan sebaik paparan oral saya. Semenjak SMA saya sudah mulai belajar menjadi pembicara dalam beragam diskusi, tentu saja dimulai dengan diskusi-diskusi berskala kecil. Kegiatan ini kemudian makin berkembang sejak 1988 ketika saya memasuki semester kedua di FISIP UI. Sebagai pembicara diskusi, saya merasa bisa mengekspresikan pikiran-pikiran saya dengan cukup baik. Namun, ketika harus menuliskan semua pikiran itu, apalagi dalam bentuk artikel pendek, saya menghadapi kesulitan luar biasa. Saya kerap gagal menulis. Ataupun jika berhasil, saya hampir selalu tak puas dengan tulisan sendiri.

Setelah saya berpikir keras selama proses itu, akhirnya saya temukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan “mengapa” di atas. Ketika bicara saya merasa bebas karena isi pembicaraan saya dengan cepat akan menguap ditelan udara. Saya tidak terbebani oleh apa yang saya katakan. Mungkin saja orang bisa menilai dan mencemooh kata-kata saya, tetapi semua kata-kata itu toh sudah lenyap ditelan udara.

Point saya: kuncinya adalah pada beban psikologis sebagai pemilik gagasan. Dalam tradisi oral, orang akan merasa punya beban sedikit saja atau bahkan tak punya sama sekali. Tapi ketika ia masuk ke tradisi literer, tradisi tulisan, beban itu bertambah bertumpuk-tumpuk. Ketika akan menuliskan gagasannya, setiap calon penulis seperti sedang membikin sendiri banyak bukti kuat yang bisa membuatnya diberi sanksi. Entah sanksi moral, sosial, hukum, atau politik. Maka ia pun gagap menulis karena beban itu.

Itulah yang kemudian membuat saya sampai pada sikap dasar bahwa menulis adalah ekspresi individual yang tak layak disarati beban psikologis tentang ancaman penilaian dan sanksi publik atas tulisan yang dihasilkan. Saya menduga dengan keras bahwa inilah boleh jadi yang membuat seseorang bisa lancar menulis kolom. Dalam konteks ini, terus terang saja, saya sendiri kurang peduli pada kemungkinan bahwa kolom yang saya hasilkan akan menjadi kolom yang buruk. Ketimbang memikirkan baik-buruk rupa tulisan, saya lebih senang memikirkan bahwa menulis adalah menunaikan sebagian hak — dan kadang-kadang kewajiban — di tengah orang lain, orang banyak, atau sistem politik.

Kredo

Halaman 2

Celakanya, institusi pendidikan kita, baik formal maupun informal, justru mengajarkan sikap dasar menulis yang keliru. Sekolah misalnya justru menjadi tempat di mana setiap calon penulis diseragamkan materi pikirannya dan cara berpikirnya. Di samping itu, guru kerapkali bertindak secara sewenang-wenang sebagai penilai dan pemberi sanksi yang seolah-olah memiliki hierarki dan otoritas lebih tinggi ketimbang si penulis, murid mereka. Maka sejak awal, palajaran mengarang di sekolah justru mematikan potensi-potensi kemunculan calon penulis besar di tempat kita. Wajarlah bila dari penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta jiwa lebih, sangat sedikit kemudian yang bisa menjadi penulis handal. Dan tentu saja, sangat sedikit buku yang dihasilkannya.

Hubungan guru-murid tadi sebetulnya merupakan replika dari relasi sosial-politik yang ada di luar sekolah dalam kerangka yang lebih makro. Sentralisasi, penyeragaman, rezimentasi, represi dan praktik-praktik sejenisnya telah lama menjadi ciri pokok sistem sosial politik kita. Dalam konteks inilah kemudian orang dipaksa kehilangan individualitasnya, karakternya, jati dirinya, bahkan kemanusiaannya. Ini kemudian ikut memberikan sumbangan besar bagi kemacetan dan kemandegan luar biasa dalam dunia literer kita, dunia penulisan kita. Kematian potensi para penulis kita pun bisa diletakkan dalam carut marut sistem yang sesat keliru semacam itu.

Dalam kerangka itu, proses panjang pembelajaran menulis yang saya jalani dan belum selesai hingga sekarang, menyadarkan saya pada pentingnya tiga hal.

Pertama, kemampuan teknis. Mau tidak mau, seorang penulis mesti terus-menerus melatih kemampuannya menulis. Ini bukan untuk mencapai satu gaya akhir yang final dan permanen, melainkan untuk makin mengefektifkan penyampaian pesan yang disampaikannya lewat tulisan. Saya percaya, mereka yang cepat putus asa dan gampang menyerah kalah, berhenti berlatih menulis, pasti akan gagal menjadi penyampai pesan yang baik. Penolakan demi penolakan dari media atau penerbit justru menjadi semacam instrumen latihan yang menjengkelkan tetapi perlu. Saya sendiri, hingga saat ini masih merasa perlu terus belajar, entah hingga kapan.

Tetapi, bagi saya, kemampuan teknis adalah faktor tertier yang mendampingi dua faktor lain yang bersifat sekunder dan primer.

Kedua, sistem sosio-politik di sekitar kegiatan penulisan. Saya percaya bahwa suasana penuh kebebasan, persuasif, egalitarian, kompetitif, transparan, saling hormat yang dimiliki oleh sebuah sistem sosio-politik akan membangun iklim penulisan yang berkembang bukan alang kepalang. Sebaliknya sistem sosio-politik yang mengekang, represif, hierarkis-feodalistik, penuh hegemoni, dan tertutup, akan menjadi lonceng kematian bagi kegiatan penulisan dan pengembangbiakan kebudayaan literer. Dalam sistem yang membebaskan, semua jenis tulisan akan bisa berkembang. Sementara dalam sistem yang mengekang, hanya tulisan berbau humor dan anekdot yang akan berkembang. “Sistem”, inilah faktor sekunder yang saya maksudkan.

Lalu, ketiga, faktor primernya tidak terletak pada kemampuan teknis atau kualitas kekangan sistem, melainkan pada kualitas kemanusiaan masing-masing kita, sang calon penulis. Warga negara yang memiliki tirani di kepalanya — yang membuatnya punya banyak hantu rekaannya sendiri yang membuatnya takut, terkekang, dan tak bisa mengaktualisasikan kemanusiaannya secara utuh — akan sulit menjadi penulis. Sebaliknya, warga negara yang bisa membebaskan diri dari tirani semacam itu pasti akan mampu menuliskan apa yang ia pikirkan dengan baik.

Menurut hemat saya, yang primer adalah faktor ini. Jadi, sekalipun sistemnya mengekang dan ia punya kemampuan menulis terbatas, seseorang akan tetap bisa melakukan kegiatan penulisan dengan baik manakala ia sudah berhasil membangun kualitas dirinya sebagai warga negara dengan kemanusiaan yang utuh. Tentu saja, suasana penulisan yang terbaik akan bisa dicapai manakala kemampuan teknik yang tinggi bertemu dengan sistem yang membebaskan dan utuhnya kualitas kemanusiaan sang penulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: