Perkataan kepada anak-anak


Usia balita merupakan saat-saat penting bagi anak dalam pertumbuhannya  baik secara fisik ataupun psikis. Bahkan pendidikan dalam arti menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak harus sudah dimulai semenjak si anak berada dalam kandungan. Beranjak memasuki usia balita, seorang anak akan belajar memahami dunianya lewat panca indranya. Anak-anak melihat dunia tidak berdasarkan nilai benar-salah atau betul-tidak betul. Kacamata mereka melihat sesuatu yang ada dihadapannya hanya berdasarkan ; menyenangkan atau tidak, nyaman atau tidak bagi dirinya sendiri. Bahkan bahaya atau tidak pun tidak terlihat oleh kacamata mereka. Berbeda dengan orang dewasa, yang bisa membedakan nilai-nilai banar-salah (berdasarkan nilai-nilai dasar yang dianut dan dipercayai sendri tentunya), bahaya-tidak bahaya, atau rapi-tidak rapi dan lain sebagainya.

Yang diperlukan di sini adalah kearifan orang dewasa, orang tua terutama ibunya dalam hal ini, dalam mensikapi tingkah laku si anak ini. Anak kecil menyimpan otak sebagai memori yang sangat baru dan bersih yang siap menerima apa saja yang diterima dan dirasakan oleh inderanya. PSetiap perkataan dari orang tuanya yang dilontarkan dihadapan si anak akan terekam dengan baik pada memori ini, yang baik ataupun yang buruk. Pada ujung-ujungnya setiap perkataan yang didengarnya akan sangat berpengaruh pada pembentukan pribadi si anak dia masa depannya.

Berikut adalah contoh-contoh perkataan yang biasanya dilontarkan oleh orang tua (baca : terutama ibu🙂 ), dan seperti apa sebaiknya. Diambil dari sebuah artikel suplemen dari sebuah harian. Mudah-mudahan bermanfaat.

scan1

1. Ketika melakukan sesuatu yang kemungkinan tidak bisa dilakukan sendiri oleh si anak. Misalnya ketika ditemui sedang menuangkan susu ke gelasnya sendiri dan tumpah. Jangan katakan :”Kamu gak bakalan bisa, jangan dilakukan..”. Tapi katakan:” Wah tumpah ya, bagusnya kayak begini ni…”. Dengan mengatakan seperti ini secara tidak langsung mengapresiasi apa yang telah dilakukan, dan membuat si anak tidak hilang kepercayaan dirinya.

scan22. Tatkala mengatakan ,” Mama, suapin….”.Jangan menimpalinya dengan perkataan ;”Kalau kayak gini terus gimana ntar….”. Tapi katakan,” Baik ya, lain kali mama yang nyuapin….”.

scan4

3. Tatkala ketakutan karena mendengar suara keras atau karena ruangan gelap. Jangan mengatakan ;” Gitu aja kok takut, gak suka ah…”. Tapi katakan;” Gak apa-apa kok, kan ada mama disini…”. Perkataan ini bukan saja memberikan ketenangan pada anak akan tetapi juga supaya si anak tidak lagi takut apabila menjumpai kondisi yang sama

scan34. Tatkala mengatakan :,” Nggak mau…nggak mau…..”. Jangan membalasnya dengan mengatakan:”Kalau nggak mau denger, Mama marah nih…”. Tapi berikan alternatif dengan mengatakan :”Yang ini ama yang ini, mana yang bagus nak?”.

scan5

5. Tatkala tidak mau meminjamkan mainan pada temannya. Tidak mengatakan;”Mama gak suka sama anak ya nggak baik..”. Tapi mengatakan;” Mainan kesukaan sih ya…..”

scan6

6.  Ketika melakukan sesuatu yang kotor, merusak atau membuat sesuatu menjadi berantakan. Misalnya menulisi lantai atau dinding dengan spidol dll. Jangan memarahi misalnya mengatakan,” Ya ampun, kamu ini apa-apaan….”. Tapi katakan;”Wah kalau ditulis disitu jadi kotor, kita tulis di kertas yuk..”

scan7

7.  Menangis karena masih ingin melakukan sesuatu. Misalnya kertika di taman masih ingin bermain ayunan lebih lama lagi. Tidak mengatakan;” Kalau gak berhenti nangisnya, mama tinggalin lho.”. Tapi katakan;”Oo masih ingin main ayunan lebih lama lagi ya…”.

Hal-hali di atas hanyalah merupakan contoh, pada lenyataannya mungkin lebih banyak lagi case-nya. Yang jelas yang bisa kita ambil sarinya dari contoh-contoh di atas adalah orang tua tidak disarankan untuk langsung menjudge, menilai secara langsung atau bahkan langsung memberikan penamaan yang negatif atas perbuatan yang dilakukan anak kita. Kelihatannya nampak ringan, akan tetapi di alam bawah sadar, si anak merekam apa-apa yang kita katakan dan akan membekas di dalam memorinya. Hal lain dengan mengatakan hal-hal seperti di atas, kita sebagai orang tua mencoba  berempati kepada anak-anak dengan menyelami dunianya dan memahami perasaannya.

2 Tanggapan

  1. BAgi orang tua yang bekerja, baiknya calon pramuwismanya di tatar dulu yaa karena dapat dipastikan yg menemani anak2 seharian di rumah. Kalo perlu di tempel di kulkas biar dapart dilihat tiap saat,. baik tuk si bibi juga buat ortu sendiri, sapa tau si ortu justru yang lupa hehe….
    aw. nice post


    iya betul ya, kita juga harus selektif dalam memilihnya sebagai pengasuh dan teman anak kita..
    saya malah nggak kepikiran, belum punya pengalaman punya pembantu RT sih..

    😀

  2. bagus…..

    belon punya anak sih..he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: