Dalam keluarga

Dalam sebuah acara TV yang sempat saya tonton, dikisahkan ada sepasang suami istri di Amerika. Mereka bertemu untuk pertama kalinya tatkala mereka kuliah di salah satu universitas negeri terkenal. Mereka satu fakultas dan satu angkatan, fakultas kedokteran. Setelah menikah mereka dikaruniai 2 orang anak laki-laki, mereka sangat berbahagia.

Pada saat anak mereka pertama lahir, kesibukan sang suami semakin meningkat. Akhirnya disepakati sang istri untuk berhenti dari profesinya sebagai dokter dan konsentrasi penuh mendidik anak di rumah.  Karir suaminya di bidang kedoktera pun  semakin menaik karena berbagai prestasinya yang diraih, sampai puncaknya dia diangkat menjadi kepala rumah sakit di kota tempat mereka tinggal.

Waktu berjalan tanpa masalah dan kehidupan mereka terlihat berjalan lancar sebagaimana umumnya rumah tangga tetangga di sekitarnya, sampai sebuah musibah terjadi.  Musibah ini terjadi setelah rumah tangga mereka berjalan kurang lebih 10 tahun. Kebakaran di tengah malam melumatkan rumah mereka dan merenggut kedua buah hati mereka. Sang suami yang sempat berupaya mengeluarkan anak-anaknya dari kobaran api, usahanya sia-sia, anak-anaknya hangus terbakar,  sedang dia sendiri terkena luka bakar di beberapa angggota tubuhnya. Sedang istrinya yang sepertinya telah menyelematkan diri terlebih dahulu, terlihat berdiri di depan rumah bak patung: tak barkata sepatah katapun. Tragis….

Lebih tragis lagi, dari hasil penyelidikan aparat kepolisian disimpulkan bahwa kebakaran yang menyebabkan tewasnya kedua anak mereka adalah bukan sebuah kecelakaan, akan tetapi memang terjadi atas kesengajaan. Ya, memang ada upaya pembunuhan. Dan hasil penyelidikan kepolisian pula dikatehui bahwa pelaku dari pembakaran rumah itu adalah sang istri!

Hah?…..

Para tetangga di sekitar rumah bagai disambar petir di siang bolong. Tak pernah terdengar ada suara percekcokan atau pertengkaran, semua terlihat seperti rukun-rukun saja tanpa masalah. Suamainya pun tak habis pikir mengapa sang istri bisa nekad dan tega berbuat seperti itu.

Hasil penyidikan polisi diketahui bahwa ternyata selama ini dia merasa ada bagian dari dirinya yang hilang. Tugasnya sebagai istri  dari suaminya dan ibu dari kedua anaknya yang merenggut bagian dari dirinya yang hilang itu. Dia yang asalnya sama-sama berprestasi di bidang akademik sebagaimana suaminya, yang sebenarnya diantara mereka saling bersaing dalam hal prestasi semasa kuliah dulu, harus diam di rumah mengurus segala aktifitas rumah tangga. Bahkan dia sempat berfikir, bahwa diapun bisa sebagaimana suaminyakalau saja rutinitas rumah tangga tidak membelenggunya. Ibarat gunung es, makin lama makin membesar perasaan ini, taidak pernah dikomunikasikan kepada siapapun termasuk kepada suaminya dan akhirnya membuncah sampai terjadilah pembakaran rumah itu. Si istri ini mengidap penyait gila ke 72 :  stress akut yang dipendam  dan suaminya terserang penyakit gila no 87 : gila kerja kayak orang jepang:mrgreen:

Hmmm…sampai sejauh itu…

Ngobrol-ngobrol bersama istri sambil berdiskusi kecil, akhirnya beberapa poin dapat kami simpulkan yang merupakan pelajaran moral yang dapat diambil dari kisah ini:

1. Mengkaji ulang niat dan tujuan kenapa kita menikah (reevaluasi niat). Ini mungkin yang paling utama karena akan mempengaruhi setiap gerak langkah suami dan istri, termasuk dalam setiap pengambilan keputusan di perjalanan keluarga ini.

2.Merevaluasi setiap kesepakatan-kesepakatan sebelum menikah. Permasalahannya bukan boleh atau tidak boleh seorang istri untuk bekerja di luar, tapi pada kesepakatan-kesepakatan yang pernah dibuat sebelum menikah dengan berdasar pada norma-norma agama yang ada tentunya. Karena agama sendiri tidak pernah memberikan pembagian tugas secara spesifik diantara suami dan istri di rumah tangga, kecuali yang sesuai dengan fitrahnya. Semua tugas-tugas yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga dibangun atas dasar kesepakatan-kesepakatan. Jadi sedikitpun tidak ada salahnya kalau sang suami mencuci piring atau menjemur baju atau pandai memasak walaupun kalau pas ada genteng bocor sebaiknya sang suami juga yang mesti benerin😀 Bukankah Rasulullah pun pergi ke pasar untuk berbelanja dan juga menjahit sendiri bajunya yang koyak?

2. Menyadari dengan benar bahwa keluarga adalah sebuah kesatuan istri-suami (-anak, bila sudah beranak tentunya) yang diikat oleh ikatan suci pernikahan. Keberhasilan salah satu anggotanya adalah merupakan keberhasilan dari seluruh anggotanya, semua harus bisa merasakan keberhasilan itu, begitu pula tatkala mengalami kegagalan ataupun musibah.  Hal ini bisa ditumbuhkan mungkin dengan senantiasa ikut melibatkan setiap anggota keluarga dalam proses setiap kegiatan, pengambilan keputusan, urun rembug dan lain-lainnya sehingga semua merasa diakui dan dihargai dan pada akhirnya timbul rasa saling memiliki.

3. Melakukan komunikasi dalam berbagai bentuk. Niat bisa bergeser, kesepakatan-kesepakatan bisa lupa, ditambah kekuatan fisk juga semakin berkurang seiring berjalannya waktu. Pada saat spt ini timbul perasaan jenuh dan apabila dipendam akan menjadi seperti kasus diatas, menggunung lalu meletus dan banyak yang jadi korban. Untuk memecah timbulnya kondisi seperti ini adalah dengan komunikasi, yang paling utama tentunya diantara suami-istri itu sendiri. Saling berdiskusi dan memberikan solusi tidak saling memendam masalah sendiri.

4. Dinamisasi dan variasi dalam keluarga. Diamanpun, siapapun yang namanya rutinitas yang monoton pasti akan membosayoshida0023nkan. Maka itu perlu yang namanya dinamisasi dan variasi. Seorang suami memang dituntut untuk lebih kreatif  dalam menciptakan suasana agar tidak monoton tersebut. Meluangkan waktu seharian setiap minggu di rumah atau rekreasi ke tempat-tempat hiburan bersama keluarga  mungkin bisa jadi solusi.  Atau pergi berdua ke coffee shop hanya sekedar untuk minum teh sambil ngobrol ringan mungkin bisa jadi alternatif (istri saya gak suka kopi😀 ). Secara tidak langsung suasana untuk saling terbuka dan berkomunikasipun akan tercipta pada momen-momen seperti ini.

5. Terakhir, katakan selalu kepada istri : I LOVE YOU karena memang kita mencintai istri kita😀

7 Tanggapan

  1. Akhirnya datang juga nih tulisan baru, bersambung lagi (bikin penasaran).
    Sori nih spoiler, itu istrinya kepengen jadi single lagi kali. Cerai dgn suami sih gampang, tapi nggak ada kata cerai buat anak krn sekali anak tetap anak hingga mati.
    Mati????
    Atau memang otak istrinya yg nggak beres secara psikologis.

    Atau yang paling ekstrim, si suami pengen kawin lagi sehingga sengaja membakar dengan membuat alibi seakan-akan istrinya yg berbuat. Istri masuk penjara, anak2 nggak bakalan mengganggu lg, lalu operasi plastik dan kawin sama bini muda :mrgreen:

    *kebanyakan nonton opera sabun dan sinetron indonesia*


    he..he.. bisa aja
    kalau saya lagi ndongeng mungkin bisa saya bawa ke arah yg diperkirakan itu bang, tp ini kisah nyata jadi alurnya dah ada..
    iyah maaf nih hrs bersambung biasa ada kerjaan lain😀, judulnya aja msh bersambung sebetulnya…gak tau apa yg paling pas..
    dah tuh dah tak sambung kisahnya…

  2. MasyaAlloh.. Ngeri juga ya. Tapi kalo istrinya ini tetep jd dokter bakal jadi dokter seperti apa ya?..
    Tampaknya komunikasi adalah kuncinya. Jangan sampai ditumpuk dan jadi bencana begini.
    Btw, makasih dah mampir di blog orok saya ya pak🙂

    Sama-sama, terima kasih dah mampir juga

  3. It’s a nice blog. Salam kenal ya…


    salam kenal juga

  4. Just passing by.Btw, your website have great content!

    _______________

  5. ass… kang, nape bendera yang berkibarnya bukan merah putih ?

  6. selamat sore sahabat
    semangat ya
    gimana cabar
    salam hangat selalu

  7. komunikasi…kuncinya …gimana khabarnya kang ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: