Orang Jepang

Ada beberapa sifat masyarakat dari bangsa yang satu ini yang saya sukai. Saya kekurangan kata-kata untuk menggambarkan sifat-sifat ini, yang jelas contoh yang dapat diambil dari hasil pengamatan dan pengalaman sendiri adalah seperti berikut ini.
Di kantor-kantor perusahaan swasta ataupun negeri di Jepang, kita akan terbiasa mendapati seorang pimpinan atau direktur perusahaan tersebut, pada setiap pagi memegang sebuah sapu melakukan bersih-bersih di dalam ruangan atau bahkan di depan halaman kantor tersebut. Atau ikut serta pula menyingsingkan lengan baju mengikuti kegiatan kerja bakti. Masih ingat tatkala semasa kuliah, setiap 3 bulan sekali ada acara bersih-bersih di kampus, semua mulai dari para mahasiswa, pekerja kampus, dan para professor terlibat di dalamnya turut serta melakukan bersih-bersih lingkungan dalam kampus.

Yang tidak kalah menarik, di kampus pada saat itu tidak jarang  ketika makan siang di kantin, saya mendapati rektor sedang makan  juga di kantin tersebut, hanya terhalang beberapa meja  saja, dia berbaur dengan para mahasiswa.  Dia makan makanan seperti yang dimakan para mahasiswa dan melakukan antri tentunya seperti para mahasiswa juga tatkala mengambil makanan.

Pemandangan seperti ini sepertinya pemandangan yang sangat langka -kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali-dijumpai di masyarakat kita. Betapa tidak, seorang professor ikut bobolokot sama lumpur membersihkan parit kecil yang ada di kampus di negeri kita sepertinya masih sulit kita bayangkan. Atau seorang rektor kukulintingan di kampus terus makan di kantin sepertinya nggak akan ada ya.  Karena gengsi? atau mungkin takut dianggap kurang kerjaan? Mungkin juga jadi salah satu alasan…

Seingat saya, hanya dua kali saya punya kesempatan melihat wajah rektor perguruan tinggi tempat saya kuliah waktu di Bandung , yang pertama, sewaktu penerimaan mahasiswa baru dan yang kedua sewaktu di wisuda. Ditambah dengan yang ketiga, setelah lulus kuliah lihat di  koran, waktu itu wajah sang rektor terpampang karena terlibat kasus korupsi……..hmm menyedihkan. Dan saya  sudah lupa bagaimana wajah beliau sekarang😀

 Ada dua kemungkinan yang bisa saya tarik kesimpulan mengapa masyarakat Jepang bisa seperti itu,  yang pertama masyarakat Jepang tidak menganggap bahwa sebuah kepemimpinan adalah sebuah posisi sakral yang sulit dijangkau oleh masyarakat/bawahannya, kepemimpinan hanya merupakan tugas bahkan lebih merupakan pelayan bagi bawahannya dan yang kedua si pemimpin ini sendiri menyadari betul bahwa dia sendiripun bagian dari masyarakat yang ada di bawahnya, dia melakukan apa yang dia bisa lakukan dan tidak takut akan ada ancaman dari masyarakatnya sehingga menyatu dengan masyarakatnya.

Bagaimana dengan di masyarakat kita?hmmm……masih sedikit mungkin ya yang seperti ini. Budaya di kita masih mengajarkan bahwa pimpinan atau atasan atau yang punya jabatan tinggi adalah posisi yang sakral, ingin selalu dihormati, gaya, naik BMW/Benz, tidak mungkin memegang sapu, atau kesan-kesan lain yang yang menggambarkan bahwa pimpinan itu “wah”.

Masih ingat dengan cerita-cerita yang sempat beredar di milis-milis tentang kunjungan tim ahli pertanian Jepang melakukan penyuluhan ke dinas pertanian di negara kita, para penyuluhnya sendiri semua siap nyemplung ke sawah dengan pakaian lapangan, sementara yang diberi penyuluhan nggak pada siap karena mereka berpakaian safari, akhirnya karena malu, dengan kikuk semua  ikut nyemplung juga ke sawah dengan berpakain safari..halaah! Terlihat sekali kalau tidak terbiasa terjun langsung ke lapangan. Persisnya saya tidak tahu cerita ini, tapi yang jelas cerita ini sempat ramai dibahas juga di milis-milis yang saya ikuti. Nyambung nggak nih contoh kasus?😀

 Adalah Baginda Rasulullah sebaik-baik manusia yang pernah ada dan sebaik-baik suri tauladan. Beliau berjalan di p富士2asar, berbelanja, menjahit baju sendiri, membetulkan rumahnya yang bocor dengan tangannya sendiri padahal beliau adalah seorang rasul dan seorang pemimpin negara. Beliau berada di tengah-tengah masyarakat dan berbaur dengan masyarakatnya. Hal ini diikuti oleh para kulafahurrasysidin setelah beliau wafat. Umar r.a bahkan pernah memikul sendiri karung gandum, dan dibagikan kepada salah seorang anggota masyarakatnya setelah mendengar secara langsung keluhan salah seorang anggota maysarakatnya itu.

Kapan ya kita mendapati pemimpin-pemimpin kita dari berbagai tingkatan mempunyai sifat-sifat seperti ini……..

——-

glossary :

bobolokot : berlumuran

kukulintingan : udar-ider😀, kesana-kemari

7 Tanggapan

  1. Sayang di kampus diriku ngak ada acara kayak gitu😦

    Ada nya waktu SMA, semuanya ikut bersih2
    saat semua bersih2, biasanya petugas kebersihan justreu istirahat😛

    Salam kenal kk🙂


    salam kenal juga, dek😉

  2. artikel yang bagus bro…
    salam kenal yah 🙂


    salam kenal juga…

  3. Salam kenal yah?
    Bagus sekali artikel’y…


    salam kenal juga

  4. artikel’ny keren skaligus mendidik..tapi sayang..para pemimpin kita mungkin g punya waktu buat baca yg seperti ini..hffttt..bagaimana cara’ny agar mereka bisa belajar dari sini ^_^

  5. ak suka dg artikel yg mmbhas mari kita bljar dari bangsa lainnya, supaya indonesia juga bisa seperti mereka, yang terpenting lakukanlah hal yg terbaik maka negarapun akan mengalami kbaikan juga. jngan mnyalahkan kerja pemerintah saya yakin ada beberapa orang juga yang bisa mengemban sebagai pemimpin, pasti ada.

  6. orang jepang siip!!! Yg nulis artikelnya juga siip!!! Terima kasih informasinya!;-)

    terima kasih juga dah mampir..

  7. Patut ditiru.

    koreksi dikit,, sahabat Rasululluh yg memikul gandum untuk rakyat yg kelaparan itu Umar ra. bukan abu bakar assidiq.

    salut sama penulisnya ^_^

    o iya ya, terima kasih atas apresiasi dan koreksinya….sudah dibetulkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: