Di jalan kita bertarung

Hidup adalah perjalanan panjang. Tetapi dalam keseharian kita, ada perjalanan-perjalanan singkat yang mengharuskan kita keluar dari rumah,kouendoori menghabiskan waktu di jalan. Hidup ini juga pertarungan besar. Tetapi dalam keseharian kita, ada pula pertarungan-pertarungan kecil, yang bisa jadi, semsestinya tidak menyita banyak energy dan perhatian apalagi sampai mengakhiri hidup kita yang belum banyak memberikan arti buat diri kita diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, perjalanan-perjalanan singkat mengharuskan kita keluar rumah, semestinya dihindarkan dari pertarungan2 yang tidak perlu yang bisa jadi akan mewujudkan banyak kerugian.

Dalam sebuah harian tersebutlah Parman (nama samaran), lelaki 43 tahun, terbiasa melewati jalur Ciawi Jawa-Barat. Ia tengah menuju pulang ke rumah suatu malam agak lenggang. Di depan pasar Ciawi ia disalip angkutan umum. Parman memaki si pengemudi angkot. Makiannya bersambut. Ribut. Keduanya turun dan makin tidak terkendali. Parman bahkan memukul dan pengemudi angkot itu akhirnya diam dan pergi.

Sekitar 30 menit kemudian , Parman mendapti dirinya diburu pengemudi itu yang sudah membawa rommbongan. Bertahan dalam mobilnya Parman jadi bulan2an. Dihantam ddengan pukulan dan senjata tajam dari berbagai penjuru.  Parman dipaksa keluar. Tapi ia tetap bertahan di dalam mobil hingga keluar teriakan “bakar!” membahana. Serangan baru berhenti setelah polisi cmpur tangan. Nyawa Parman dapat diselmatkan namum kepalanya dijahit belasan jahitan. Seluruh bagian kepalanya dibalut perban. Berminggu-minggu ia tidak bisa ke mana-mana dan para penyerangnya berakhir di penjara. Istri pengemudi angkot shock berat begitu mendengar suaminya masuk penjara karena kasus tersebut.

Cerita yang berawal dari hal spele di ujung gang adalah cerita lain. Sekumpulan remaja yang sedang nongkrong di ujung gang menggoda seorang perempuan yang melintas di depan mereka. Tak tahan degan godaan para lelaki iseng ini si perempuan mengadu kepada kakak lelakinya yang kebetulan tinggal di kampung sebelah para lelaki penggoda ini. Merasa dilecehkan, sang kakak murka. Perkelahian pun pecah. Saling serang pun terjadi. Maka perkelahianpun meluas menjadi perkelahian antara dua kampung.  Pintu-pintu rumah di sepanjang jalandua kampong itu terbuka. Penghuninya keluar. Tercipta dua kubu. Untung tidak sampai adakorban jiwa karena satu pasukan polisi berhasil merelai perkelahain antara 2 kampung itu.

Dua contoh kasus ini adalah potret dari wajah msyarakat kita yang masing sering kita jumpai yang tidak tahu kapan akan berakhir. Yang jelas drama semacam ini terus berualang. Kejadiannya bisa berujung pada sekedar sakit hati tanpa adu jotos, tapi bisa berdarah-darah bahkan berakhir pada kematian. Ya ini soal mentalitas. Di dalamnya ada kesabaran dan kedewasaan  Ada pemebelajaran untuk tidak membiasasakn mengumpat dan memaki. Ada pembelajarannya2 lainnya untuk memenej emosi hingga tidak terbuang percuma.

Di jalan, godaan-godaan selalu tersedia. Tiap hari. Tiap kita meninggalkan rumah. Tiap menit ke menit yang kita habiskan di jalan-jalan. Kita harus memilih. Meladeni pertarungan dengan orang lain akibta perkara spele. Memilih godaan untuk menyimpang, kalah bertarung. Atau meimilih sebaliknya, dan tidak kehilangan tujuan kita mlewwati jalan-jalan itu.

Di sana, di luar rumah kita akan bertemu dan bergesekan dengan orang-orang yang punya waktu singkat dan kebutuhan yang sangat mendesak; sedang  menuju tempat kerja, sedang dinanti keluarga yang sakit, sedang ada janji dengan orang lain, sedang mengejar jadwal keberangkatan, sedang bersiap menghadapi ujian and sederatan kepentingan yang mungkin tidak bisa ditunda. Sama seperti kita yang juga sedang berpacu dengan waktu untuk urusan dan kepentingan yang lain. Di sini biasanya pertarungan2 itu terjadi.

Ini sebenarnya bukan perkara rumit, hanya butuh beberapa sikap; kesadaran, ketenangan, dan pengendalian emosi. Andaikan kita mau bersikap tenang tidak terburu-buru dan mau menahan ego and emosi bisa jadi urusana kita akan lebih cepat selesai dan pasti tidak terlibat dalam pertarungan remeh-temeh. Sebab jika kita tetap dalam kekeukeuhan kita kita yang tidak berdasar itu, sebenarnya yang ada di benak kita ada juga di benak orang lain, shingga pertarungan pun akan sulit untuk dihindari.

Keluar dari rumah, sesungguhnya bukan sesuatu yang selalu menyenangkan. Kalaulah bukan karena ingin menjemput kesenganan, kemudahan, mencari nafkah, mencari dan mengambil pelajran hidup, menunutut ilmu, tentulah kita lebih memilih untuk tinggal di rumah, bercengkrama dengan istri dan anak-anak; lebih aman lebih nikmat.

Rasulullah bersabda “ Perjalanan itu bagian dari azab, ian menghalangi seseorang dari tidurnya dari makan dan minumnya. Apapbila seseorang telah memenuhi kebutuhan dan keinginannya hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya” (HR. Bukhari).

Untuk memenuhi kebutuhan kita yang banyak itu, kita butuh rasa aman, ketenganan dan keselamatan dalam setiap langkah kita. Sementara di luar sana telah menenti banyaik rintangan yang siap mengacaukannya. Untuk itu perlindungan Yang Maha Kuasa adalah mutlak, sejak langkah awal kaki dipijakan di pintu hingga akhir pijakan sampai kembali lagi ke rumah. Doa mungkin hanya sejumput kata, tetapi itu tetap penting. Paling tidak akan menyelamatkan kita dari pertarungan-pertarungn sia-sia yang berserakan di jalan-jalan. Sebab tidak selamanya kita mamapu menguasai diri kita sendiri, sehingga kebutuhan kita akan penguasaan Allah atas kita atas hal-hal yang tidak kita sadarai, sangat kita butuhkan.

6 Tanggapan

  1. Subhanalllah….. Saya jarang menyadari pemikiran yang seperti ini Mas…
    Doa keluar dari rumah pun belum hafal, insyaallah akan membuka doa tersebut, semoga emosi ini tetap terjaga ketika keluar sana😉

    Salam semangat selalu
    (Akhirnya update lagi tulisannya)

  2. aku suka
    blue suka postingan yg bijak ini bang
    makasih ya
    salam hangat selalu

  3. thanks a atas postingnya yang menarik…
    kenalkan sy Agus Suhanto

    sama-sama…salam kenal juga..

  4. memang tidak mudah untuk dapat mengendalikan emosi terutama ketika kita berada di jalan. Dan selalu disadari bahwa akan sangat rugi ketika hal sepele mengakibatkan kerugian yang besar. Maka do’a yang mengharapkan keselamatan lah, insya allah yang akan memberikan ketenangan dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan selama diperjalanan.

    betul Bu Ida…trims comment-nya, gmn dah jadi blognya?😉

  5. terkadang memang sulit untuk mengendalikan emosi apalagi klw pikiran lagi kalut, terimakasih untuk postingann yang bagus ini bro..

    terima kasih kembali…
    pengendalian emosi memang harus dilatih..semoga kita menjadi terbiasa…

  6. Hishashiburi! Gimana kabar sekeluarga? baik2 aja?
    Lama gak update mang, sibuk yah?

    orang bilang masalah sepele jadi menyangkut nyawa gara-gara emosi. Coba tanya pada si sopir angkot atau kakak yang digoda. Jawabannya cuma ada satu: HARGA DIRI.
    Setahuku kebanyakan harga diri di Indonesia sudah sangat murah, boleh di bilang di obral. Tapi untuk kasus yang mang Yan tulis diatas, sepertinya harga diri masih cukup berharga, cuma timpalannya nyawa menjadi murah.

    hisashiburi da ne?
    dou shuushoku kimatta kai?
    iya ni jarang update, maklum sibuk :d

    iya makanya sering orang salah dalam menempatkan harga diri, akhirnya gak pada tempatnya dengan “harga murah” nyawa harus melayang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: