Dunia Nyata

 Oleh : Ibnu Musa

“Kali ini ada kabar apa sehingga membawamu kemari anakku?”tanya penghuni rumah yang tiada lain adalah paman anak muda yang baru datang bertamu itu.

Anak muda itu tersenyum. Satu tegukan kopi pahit diambilnya dari cangkir kecil suguhan yang terletak di depannya

“Kali ini wajahmu begitu cerah seolah mengatakan sesuatu yang tidak seperti biasanya. Beberapa hari yang lalu kau datang dengan wajah kusut mengadukan kepadaku tentang apa-apa yang menimpa perusahaan tempat kau bekerja” sambungnya.

“Aku sudah membuat keputusan.” Jawabnya singkat seraya sedikit mengangkat dada.

“Jadi kau akan melawannya?”pamannya penasaran.

“Ya aku akan melawan para bajingan tengik itu” jawabnya mantap.

“Kau tahu resikonya?”

“Tahu”

“Kau bisa mati” dia menegaskan.

“Aku sedang menegakkan kebenaran, syahid sebagai gantinya,”timpalnya yakin.

“Meskipun perusahaanmu hancur dan para pekerja akan kehilangan pekerjaan? lagipula, kau tahu apa tentang kebenaran di negeri ini?

Sejenak anak muda ini terdiam. Menghela nafas panjang beberapa kali.

“Aku hanya ingin menegakkan kebanaran dan memberi pelajaran kepada para aparat itu. Pungutan-pungutan liar dari berbagai aparat, mulai dari aparat pemerintahan, bea cukai, bahkan aparat kemanan itu sudah tidak terkendali. Proyek ini bisa berhenti atau bahkan perusahaan bisa bangkrut dibuatnya.” Anak muda ini meyakinkan.

Seraya mengelus-ngelus janggut panjangnya yang mulai memutih pamannya berguman “Hmm begitu ya..”

“Jadi apa yang kau bela sebenarnya, kebenaran atau perusahaan jepangmu itu?”pamannya sedikit menguji.

“Kedua-duanya, bahkan aku ingin menyelamatkan negaraku”

“Apa maksudmu?”pamannya menatapnya dengan heran.

Anak muda ini diam sejenak seperti merumuskan sesuatu.

“Proyek ini didanai oleh pemerintah Jepang, bentukyna bukan pinjaman tapi hibah. Aku ingin proyek ini berjalan lancar. Tidak banyak rongrongan  berupa pungutan-pungutan liar semacam itu. Juga aku ingin dijauhi dari rongrongan para tangan jahil para pencuri dan perusak alat dan bahan-bahan di lapangan. Aku tidak ingin bantuan-bantuan dari jepang seperti ini jadi sia-sia, kalau ada apa-apa Negara juga yang dirugikan”. Anak muda ini menjelaskan dengan harapan ada anggukan dari pamannya tanda setuju. Tapi..

“Ha…ha…ha….”tiba-tiba pamannya terbahak menyimak penjelasannya ini.

“Apa yang lucu paman?”dia terheran-heran mlihat pamannya sedikit terkekeh.

“Sebentar biarkan Aku tertawa dulu..ha,,,ha,,ha,,”sambil mengulurkan satu telapak tanngannya mengisyaratkan tunggu dulu. Kemudian dia melanjutkan.

“Kau sekarang hidup dalam alam nyata, ini kenyataan hidupmu anak muda. Sebelum ini kau tinggal di negara serba tertib, rapi, bersih, alam tanpa kongkalingkong, tanpa ada suap tanpa ada uang pelicin. Di sini keadaannya seratus delapan puluh derajat berbeda, semuanya terbalik, suap sana-sini, korupsi dan kolusi sudah merambah di berbagai lini kehidupan. Semua sudah membudaya, kasarnya, roda kehidupan sepertinya tidak akan berputar tanpa semua itu. Di negara ini hal-hal seperti ini sudah biasa, kebenaran bisa diperjualbelikan”.

“Ini yang ingin aku labrak!”anak muda ini menjawab spontan dengan nada agak tinggi. Pamannya kaget.

“Kebiasaan ini yang ingin aku lawan. Masih ingat beberapa hari yang lalu ketika seorang aparat menghubungi salah seorang staf di tempatku bekerja meminta setoran, ketika ditanya untuk apa uang ini, jawabnya sangat enteng untuk uang keamanan dan ini sudah biasa kalau ada proyek-proyek sepert ini dengan menyebutkan uang nominalnya yang berjumlah ratusan juta rupiah” anak muda ini mencoba memberi gambaran.

“Lalu kau bicara tentang bantuan hibah dari Jepang..hmm. Jangan tersinggung anak muda, Aku tidak yakin dengan bantuan Jepang ini,” pamannya menghela nafas.

“Maksud paman?”anak muda itu heran.

“Kau lihat sepertinya Jepang berbaik hati memberikan berbagai bantuan termasuk bantuan hibah ini, mereka punya kepentingan dibalik semua ini.”

“Mereka mengucurkan dana, tapi kau lihat mereka juga yang memilih ahli, dan kontraktor kemudian mereka juga yang memasok alat dan bahan dari mereka sendiri. Aku bukan ahli ekonomi, tapi aku berpikir bukannya lebih bagus mengambil pinjaman dari pasar. Uangnya jelas ngucur pada saat penerbitan surat utang kita bisa menggunakan bebas uang pinjaman tersebut tidak seperti pinjaman dari Jepang, sebagian besar uang balik lagi kesana, karena itu tadi segalanya harus memakai serba jepang”. Anak muda itu menyimak kata demi kata dengan teliti.

“Beberapa tahun yang lalu disepakati Economic Partnership Agreement (EPA) antara Jepang dan Indonesia. Dari beberapa diskusi banyak menyimpulkan perjanjian ini tidak menguntungkan Indonesia. Kita memberikan tarif nol persen untuk produk mereka berupa alat berat, alat elektronik, mesin dan sejenisnya. Dan penjualan mereka meningkat pasca EPA ini. Sementara kita hanya dapat pengiriman tenaga kerja berupa trainee dan perewat yang tiga tahun itu, selebihnya tidak ada. Bagaimana pendapatmu ?”

Anak muda itu terdiam kemudian mengikuti arah pandangan mata pamannya.

“Begini paman…”anak muda itu mencoba memulai menjawab.

“Adalah sebuah hal yang wajar kalau si pemberi pinjaman memberikan persyaratan atas pinjaman yang diberikan apalagi yang sifatnya hibah, bukan saja agar dananya tidak diselewengkan, pihak Jepang juga pasti mencari keuntungan dari apa yang dihibahkan, sehingga perlu pengawasan ketat. Adapun mengenai segalanya harus dari Jepang, itupun sepertinya wajar sebagai syarat yang diajukan. Walaupun sebagian dananya balik lagi ke jepang, tapi sebagian besar berubah menjadi bentuk fisik berupa bangunan proyek itu sendiri dan menjadi upah karyawan. Dalam hal ini tetap kita masih diuntungkan.”pamannya menyimak serius.

“Terus mengenai penandatangan EPA, Aku sendiri tidak menyalahkan perjanjiannya. Namanya juga perjanjian seharusnya saling mnguntungkan. Ini masalah deal dan persetujuan. Kalau kita yang dirugikan berarti pemerintah atau wakil-wakil negara yangmenandatangani perjanjian itu yang harus disalahkan, jadi ini masalah diplomasi. Kita perlu jepang untuk pembangunan di sektor riil dan jepang perlu kita untuk pasar. Kita bisa sejajar dengan jepang. Artinya kita punya posisi tawar yang tinggi dalam hal ini.”Pamannya manggut-manggut.

“Justru aku tidak mengerti” anak muda itu melanjutkan.

“Harusnya ada dukungan dari masyarakat, aparat pemerintah dan aparat keamanan setempat untuk proyek-proyek semacam ini. Alih-alih mendapat dukungan, malah yang ada pengrusakan alat-alat berat, dan pencurian bahan-bahan oleh masyarakat, pemerasan oleh aparat negara dan lain-lain.” terangnya dengan nada kesal.

“Aku tidak sedang merusak alam disana, atau mengambil kekayaan alam di sana untuk kemudian hasilnya diangkut ke pulau jawa dengan meninggalkan kerusakan alam dan kemelaratan rakyat di sekitarnya seperti yang sering terjadi di sekitar proyek galian tambang, minyak atau gas. Aku tidak mengatakan semua pungutan liar itu harus diarahkan ke proyek-proyek tersebut, tentu tidak. Bagimanapun pungli adalah pungli tetap harus dihilangkan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa proyek ini untuk kepentingan masyarakat setempat pula, kalaupun tidak ada dukungan, tidak ada gangguan pun sudah cukup bagi kami sebagai pelaksana proyek ini agar berjalan sesuai rencana”. Nadanya lantang.

“Cukup anak muda, penjelasanmu lugas, aku mengerti,”pamannya memotong.

Pamannya bediri, mengalihkan pandangannya ke luar jendela, membenturkannya ke batas cakrawala berjarak ratusan kilometer dari rumahnya yang terletak tidak jauh dari garis pantai itu.

“Hampir 40 tahun Aku menggeluti proyek-proyek pembangunan jalan dan kota, walaupun Aku hanya seorang konsultan dan bukan kontraktor sebagai eksekutor proyek sebagaimana kau, Aku tahu persis bagaimana perhelatan di dunia tender-tender proyek. Pungutan-pungutan liar, suap, pelicin berupa uang atau wanita adalah hal yang biasa. Selama kau bekerja di bidangmu itu kau akan sulit keluar dari perhelatan ini.”

Anak muda itu menyimak penuh perhatian.

“Aku pernah muda, aku tahu apa yang kau rasakan sekarang. Bukannya aku diam, akupun berusaha untuk melawan semua keadaan ini pada saat itu. Tapi tenaga ku tidak cukup, aku berjuang sendiri, aku kalah. Pragmatis memang, sebagaimana yang lain daripada tidak makan, aku mengikuti alur yang ada.” Lirihnya.

“Aku ingin melawan” Anak muda itu berdiri.

Pamannya menoleh dan mengadukan pandangannya dengan anak muda itu.

“Kau mirip mendiang ayahmu, pantang menyerah.”pamannya mengenang.

“Kaupun tahu penyebab kematiannya”

“Tentu Aku tahu, tabrak lari”

“Ya tabrak lari, Waktu itu umurmu masih sekitar 5 tahun. Peristiwa tabrak lari  itu terjadi beberapa hari setelah media masa mengumumkan adanya kasus penggelapan uang 2 miliar rupiah yang dibongkar ayahmu. Aku mensinyalir ada persekongkolan di kantor ayahmu untuk membunuhnya. Aku sangat yakin. Tapi ibumu meminta untuk tidak melnjutkan penyelidikan ke arah itu. Dia ingin ayahmu istirahat dengan tenang.” Anak muda ini meringis, walau pernah mendengar kisah kematian ayahnya ini dari pamannya yang lain.

“Kau lihat resikonya, waktu itu ayahmu bukan saja dikucilkan oleh teman-temannya, karena dia selalu rewel dalam hal kerapihan adimistrasi dan tidak ingin ada penyelewengan, tapi dia juga sulit naik jabatan  karena selalu bersebrangan dengan atasannya, bahkan pada akhirnya harus kehilangan nyawanya demi membela idealisme yang dipegangnya” dia menambahkan.

“Aku bangga padanya,”anak muda itu menimpali.

Agak lama keduanya terdiam.

“Lalu untuk apa kau datang kemari? Minta persetujuanku?”Tanya pamannya

“Bukan”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin memberi tahu”jawabnya singkat

 “Apa yang kau punya untuk melawan mereka?”Pamannya penasaran

“Aku punya beberapa kenalan orang KPK dan seorang wartawan”

“Lalu apa yang kau lakukan dengan mereka?”

“Aku akan menjebak para bajingan tengik itu di sebuah tempat”Jelas anak muda ini.

“Kau sudah yakin dengan apa yang kau pikirkan?”

“Ya aku sudah yakin”

“Kalau begitu pergilah, Kalau kau memang tidak ragu. Aku hanya bisa berdoa mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa” pamannya menyudahi pembicaraan diantara keduanya. Aku tidak ingin terjadi seperti apa yang menimpa ayahmu, begitu batin pamannya berkata.

Tidak lama kemudian anak muda ini undur diri.

Selang beberapa hari terdengar bahwa kasus pemerasan oleh aparat pemerintahan dan aparat keamanan ini terungkap. Usaha anak muda ini berehasil. Dengan alasan demi kewibawaan angkatan, aparat keamanan ini diberhentikan secara tidak hormat dan seorang lagi, aparat pemerintah, sedang diproses dipengadilan. Berita ini pun dimuat dibeberapa harian terkenal di daerah itu. Akan tetapi seperti ada angin yang meniup bara  yang asalnya tidak berapi, isu pembebasan tanah yang asalnya sudah redam, muncul lagi dan membara menjadi gelombang protes segerombolan orang dan menuntut keadilan. Ada yang merekayasa, begitu semua orang  berkesimpulan. Siapa dalang dibalik aksi ini semua orang tahu. Masa semakin banyak berkumpul dan tidak terkendali. Alat-alat berat, truk dan peralatan-peralatan  lainnya dibakar masa. Anak muda itu tampil ke tengah masa bermaksud meredam amarah mereka. Tapi apa boleh buat, di mata mereka anak muda itu bagian dari orang-orang yang tidak berbuat adil, bukannya reda, malah sebuah batu sebesar kepalan tangan melayang dan persis mengenai kepalanya, tidak cukup sampai di situ, perutnya robek terkena sabetan sebuah pisau entah dari mana datangnya, kajadiannya begitu cepat. Anak muda itu lunglai dan roboh seketika. Aparat keamanan yang lambat datang, akhirnya bisa mereda amukan masa setelah beberapa kali melepaskan tembakan ke udara.

Proyek ini terhanti. Beberapa orang site manager berkebangsaan jepang dipulangkan. Ratusan orang pekerja kehilangan pekerjaan. Proyek ini tidak dihentikan, kelanjutannya sedang dalam peninjauan ulang, bagitu penjelasan pemerintah pada sebuah siaran di media televisi. Beberapa hari setelah kejadian ini, di rumah sakit anak muda itu siuman dari pingsannya. Lama dia mencoba memulihkan ingatnnya. Dia mencoba membuka matanya. Terasa berat. Tidak lama muncul sebuah sosok, badannya kurus dengan janggut putih berdiri di samping kasur tempat ia berbaring, sosok yang amat dia kenal, pamannya. Terlihat sosok ini tersenyum.  Senyum yang seolah mengatakan “Selamat datang di dunia nyata, bersyukurlah Tuhan masih menyelamatkanmu, anak muda”.

3 Tanggapan

  1. sebagaimana yang lain daripada tidak makan, aku mengikuti alur yang ada.” Lirihnya. ^_^’

    kaktus di gurun pasir yang sangat tanduspun masih diberi makan. jika memang dikehendakiNya.

    tikus di lumbung padi juga bisa mati kelaparan… jika dikehendakinNya (tikusnya sariawan akut jadi gak bisa makan… heheh)

    BTW alur ceritanya mantap…

    salam sobat..

  2. untuk merubah suatu bangsa, mulailah dari diri sendiri…
    dua jempol lah..ceritanya keren abizz..

    kata Aa juga iya ya..😀
    nuhun apresiasinya..

  3. tulisan yang bagus, tapi semoga tidak menurunkan niat para pembaca utk merubah keadaan.
    Pernah saya alami namun tak separah ini, mngkin belum.
    butuh banyak waktu dan usaha untuk merubahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: