Logika Kepemilikan

sakura
Suatu hari seorang teman orang jepang, bercerita bahwa dia menemukan dompet yang berisi uang beberapa puluh ribu yen, kartu kredit dan kartu-kartu lainnya (semacam KTP kalau di kita).Dan tidak berselang lama, teman saya ini menyerahkan dompet ini ke kantor polisi terdekat.

Iseng saya bertanya kenapa dikasihkan ke kantor polisi. Dengan enteng dia menjawab, dompet beserta isinya itu bukan milik saya, saya serahkan ke polisi, dengan harapan bisa kembali kepada si empunya.

Jawaban yang sudah saya duga sebetulnya. Saya sendiri punya pengalaman kehilangan dompet dan kehilangan HP, semuanya kembali dalam keadaan utuh. Begitupun saya dengar cerita-cerita dari teman-teman yang mengalami nasib serupa, baik itu orang Indonesia atau penuturan dari teman2 orang jepang sendiri, kehilangan sesuatu semacam dompet, tidak berselang lama kembali utuh.

Sederhana, tapi di sini sebetulnya poinnya. Orang-orang seperti taman saya ini memahami dengan seutuhnya arti kepemilikan, yang akan meberikan batas jelas mana yang menjadi miliknya dan mana yang menjadi milik orang lain yang tidak bisa dicampur adukkan.

Logika yang sangat sederhana tetapi memiliki efek sangat mendalam. Bukan saja efek positif kepada para si pelaku kejadian, orang yang kehilangan barang dan si penemu barang tersebut. Akan tetapi lebih jauh meberikan semacam social trust, kepercayaan pada sebuah tatanan masyarakat, yang memberikan rasa aman dan nyaman hidup pada tatanan tersebut dikarenakan masyarakatnya terbisa berlaku seperti itu.

Bagaimana tidak. Bukankah segala ketidakteraturan, kesemarawutan, kekacauan yang tidak jarang menimbulkan korban jiwa, atau bahkan kecelakaan yang bisa menimbulkan korban jiwapun awalnya sering dikarenakan kurangnya memaknai logika kepemilikan ini?

 Baru-baru ini di sosial media sempat menjadi pembahsan hangat tentang sampah yang selalu tertinggal setelah selesai sebuah acara, bahkan setelah event keagamaan sekalipun. Kenapa bisa seperti itu?Jawabnya adalah karena si pembuat sampah tidak memaknai sampah yang dibuatnya adalah sampah miliknya. Kita yang membuat sampah kenapa orang lain yang mesti membereskannya?Pertanyaan ini akan muncul dengan sendirinya apabila makna logika kepemilikan ini benar-benar dipahami. Yang kedua, si pembuat sampah tidak menyadari bahwa tempat tersebut adalah milik bersama termasuk dirinya yang mana diapun punya tanggung jawab untuk menjaga kebersihannya. Saya pernah melihat orang jepang bersusah payah  mengejar sampah plastik terbang karena tertiup angin padahal sampai berpuluh-puluh meter. Saya berkeyakinan pasti orang ini berpikir, sampah yang terbang ini miliknya, sehingga dia sendiri yang harus membuangnya ke tempat sampah tidak mungkin membiarkan orang lain yang melakukannya.

Contoh lain. Yang paling hangat adalah peristiwa yang baru-baru ini terjadi, yaitu kecelakaan truk bermuatan minuman, terguling. Warga sekitar berebut mengambil kemasan minuman tersebut sampai polisi pun agak kewalahan menanganinya. Lho kok bisa?apa yang membuat minuman kemasan dari truk itu bisa diambil dan sehingga bisa dimiliki? Tidakkah ini sama dengan mencuri?Lebih jahat dari mencuri biasa sepertinya kalau menurut saya. Bagaimana tidak?orang sedang terkena musibah, dicuri pula barangnya. Bak orang yang terjatuh disuruh menelan tangga pula😀. Lagi-lagi ini masalah pemaknaan logika kepemilkan, hak milik orang lain yang tidak dimengerti.

Bagaimana dengan korupsi? Jangan ditanya. Korupsi pada dasarnya pengambilan sesuatu yang bukan hak miliknya. Ada banyak cara mulai yang terang-terangan, markup atau manipulasi data sampai yang  memanfaatkan kelemahan-kelamahan aturan. Intinya pasti ada hak yang bukan miliknya yang diambil di situ.

Pernah lihat di depan mobil anda, ada mobil yang menyalip sana-sini, ke bahu jalan misalnya, dan itu mengakibatkan malah tersendat lajunya kendaraan atau bahkan mengakibtkan kemacetan? Orang seperti ini punya pikiran bahwa jalan itu punya nenek moyangnya, sehingga dia bisa jalan seenaknya. Orang seperti ini tidak peduli bahwa ada banyak orang lain yang punya hak kepimilikan yang sama akan jalan tersebut. Ada banyak orang yang punya kepentingan yang sama sehingga menggunakan jalan tersebut. Celakanya kalau lagi naas, kebetulan bertemu dengan orang yang sedikit kesabarannya, hal seperti ini bisa menimbulkan pertengkaran, adu jotos bahkan sampai todongan pistol.

Masih ingat kasus pencurian buoy( alat pendeteksi tsunami)? Alat ini dicuri oleh orang-orang yang yang tidak faham tentang barang milik umum. Bukan sekedar milik umum tapi barang yang menyangkut keselamatan umum atau orang banyak. Kejadiannya bukan sekali dua kali, tapi sering!Hebat kan?

Masih banyak contoh-contoh kasus yang lain yang pada intinya berawal dari kurang memahami dan memaknai arti hak kepemilikan sendiri, orang lain atau hak milik umum.

Bagi orang yang beragama, refleksi dari pemahaman arti sebenarnya dari logika kepemilikan ini jangkauannya lebih mendalam lagi bukan saja dimensi dunia akan tetapi sampai di akhirat. Larangan mengambil hak orang lain dan konsekuensinya di dunia dan akhirat sangat jelas.

Mungkin kita akan menjadi kaya atau banyak harta dengan mengambil hak kepimilikannya secara tidak benar, tapi satu yang kita tahu, yang pasti harta itu tidak akan membawa berkah. Bukankah kita diajarkan Rasulullah saw lewat sebuah do’a yang sangat masyur :

Ya Allah Tuhan kami, kami memohon kepada Engkau keselamatan dalam agama, kesehatan dalam tubuh, bertambah ilmu, keberkahan dalam rezeki, tobat sebelum mati, rahmat ketika mati, dan ampunan sesudah mati. Allah Tuhan kami, mudahkanlah kami ketika sekarat, lepaskanlah dari api neraka, dan mendapat kemaafan ketika dihisab. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)

Kita tidak diajarkan untuk meminta banyak rizki dilimpahkan kepada kita, akan tetapi kita hanya diajarkan untuk meminta keberkahan atas rizkiNya yang diberikan kepada kita. Maknanya, rizki yang dilimpahkan kepada kita berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan untuk menggapainya, ini sesuai dengan sunnahNya, mengikuti takaran-takaranNya. Sedangkan keberkahannya, hanya lewat pertolonganNya-lah kita mampu menghindari hal-hal yang merusak kehalalan rizki tersebut, termasuk memohon kekuatan untuk tidak tergoda mengambil segala sesuatu yang bukan hak milik kita. Sehingga kita memohon kepadaNya untuk keberkahan rizki ini.

 Wallahu’alam, 

Edogawa, 01 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: