Catatan tersisa

Di pelosok pulau yang satu ini internet tidak semudah bisa dikases seperti di kota-kota besar. Makhluk yang bernama sinyal, terutama sinyal internet, tidak setiap hari singgah di sini. Datang satu hari kemudian hilang dua hari atau sebaliknya adalah hal yang biasa. Mess (mess I) tempat saya tinggal sekarang termasuk yang enggan dikunjunginya. Kadang ia menyelinap ke tempat-tempat sempit berukuran satu meter atau lebih kecil, satu langkah saja menjauh dari tempat tersebut, makhluk ini raib entah kenapa, danbila kita balik lagi ke tempat tersebut ia akan nongol lagi, aneh. Yang hebat panduduk setempat tahu tempat spot-spot seperti ini dimana berada. Sehingga kita bisa bertanya kepada mereka dimana sebaiknya menangkap sinyal ketika sinyal handphone kita misalnya, kabur. Baca lebih lanjut

Iklan

Coretan di Akhir Tahun

“Tiga hal yang membuatmu menjadi manusia terbaik. Pertama, laksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling baik beribadah. Kedua jauhilah apa yang dilarang olehNya, niscaya engkau menjadi orang yang zuhud. Dan ketiga, terimalah dengan ridha rizki yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.” (Abdullah bin Mas’ud r.a)

Dalam hitungan satuan waktu terkecil sekalipun, sebuah eksistensi mengalami penambahan umur seiring berjalannya waktu itu sendiri. Pada saat bersamaan, “jatah” waktu eksistensinya berkurang dan terus berkurang sampai akhirnya habis. Begitupun manusia dan semua makhluk yang bernyawa di alam ini,  mempunya fase eksis yang semua diawali dan diakhiri oleh fase “tiada”, mempunyai umur yang tertentu dan bisa berbeda-beda.

Kita tidak pernah tahu berapa lama  jatah umur yang berupa masa eksis ini. Kita tidak pernah diperintahkan untuk mencari tahu dan memang tidak akan pernah akan bisa mencari tahu dan bisa mendapatkan jawaban berapa lama waktu yang kita miliki. Kita hanya diperintahkan untuk menata dan mengelola jatah eksis itu oleh Sang Pemilik masa  itu sendiri. Quote kata-kata hikmah dari Abudullah bin Mas’ud di atas cukup menjadi tuntunan dalam mengelola dan menata masa yang berbatas yang diberikan Yang Maha Penguasa, Allah SWTBaca lebih lanjut

Dalam keluarga

Dalam sebuah acara TV yang sempat saya tonton, dikisahkan ada sepasang suami istri di Amerika. Mereka bertemu untuk pertama kalinya tatkala mereka kuliah di salah satu universitas negeri terkenal. Mereka satu fakultas dan satu angkatan, fakultas kedokteran. Setelah menikah mereka dikaruniai 2 orang anak laki-laki, mereka sangat berbahagia.

Pada saat anak mereka pertama lahir, kesibukan sang suami semakin meningkat. Akhirnya disepakati sang istri untuk berhenti dari profesinya sebagai dokter dan konsentrasi penuh mendidik anak di rumah.  Karir suaminya di bidang kedoktera pun  semakin menaik karena berbagai prestasinya yang diraih, sampai puncaknya dia diangkat menjadi kepala rumah sakit di kota tempat mereka tinggal.

Waktu berjalan tanpa masalah dan kehidupan mereka terlihat berjalan lancar sebagaimana umumnya rumah tangga tetangga di sekitarnya, sampai sebuah musibah terjadi.  Musibah ini terjadi setelah rumah tangga mereka berjalan kurang lebih 10 tahun. Kebakaran di tengah malam melumatkan rumah mereka dan merenggut kedua buah hati mereka. Baca lebih lanjut

Keutamaan mempunyai anak perempuan

Mendidik dan membesarkan anak perempuan menempati tempat khusus me-and-aisyahdalam islam. Walaupun secara pokok dan intinya sama antara pendidikan anak laki-laki dan perempuan, yaitu didik untuk mentauhidkan Allah SWT seperti yang di ajarkan Luqman kepada anaknya. Akan tetapi dalam beberapa hal dan prakteknya pendidikan dan mengurus anak perempuan mendapat perhatian khusus.

Allah SWT memberikan derajat yang tinggi kepada kaum wanita. Dan memberikan kedudukan yang baik kepada para orang tua yang bisa mendidik dan membesarkan anak-anak perempuannya.

“Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa kecuali hanya satu butir kurma. Baca lebih lanjut

Lelaki tua itu

Lelaki tua itu badannya kurus dan tidak lagi lurus alias bungkuk. Jalannya pun sangat lambat seperti menahan rasa sakit. Tidak ada senyum menyungging, sekedar anggukan sebagai jawaban dari sapaan  setiap kali aku bertemu dengannya. Bahkan untuk sekedar menoleh pun sepertinya kesulitan. Lehernya kaku sehingga dia harus memutar badannya demi menoleh tatkala ingin melihat sebuah objek yang berada tidak tepat di depannya. Tidak tahu pasti penyakit apa yang diderita lelaki tua itu. Setiap pagi hanya terlihat dia dijemput oleh seorang perawat dengan menggunakan mobil jemputan. Mobil jemputan dari sebuah panti jompo atau pusat rehabilitasi atau sejenisnya.

Sering aku merasa iba melihatnya. Betapa tidak, jalannya yang tertatih-tatih, tiap pagi harus turun tangga tatkala mobil jemputan tersebut datang, dan naik tangga lagi sekitar pukul 4 sore tatkala pulang masuk rumah. Ya dia harus naik turun tangga karena dia tinggal di lantai 5 tepat di atas lantai kamar apartemenku. Sering pikiran usilku mengusik, siapa gerangan anak cucunya yang tega  menelantarkan dan membiarkan hari-hari si pak tua ini untuk dihabiskan di rumah sejenis panti jompo itu. Baca lebih lanjut

Renungan Hari Jum’at

Hari ini adalah hari jumat pertama di bulan syawal.  Hari ini khutbah jum’at diisi dengan tema renungan seputar bulan suci Ramadhan yang baru lewat. Khatib membacakan khutbahnya singkat namun padat. Khatib mengibaratkan bulan suci Ramadhan ini bagai stasion tempat pengisian bahan bakar untuk perjalanan di bulan-bulan yang lainnya. Orang yang paling beruntung adalah orang yang benar-benar memanfaatkan datangnya bulan ini untuk mengisi kantung perbekalan sebanyak-banyaknya. Bentuknya berupa beramal ibadah sebanyak-banyaknya dan memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah diperbuat. Yang merugi adalah orang-orang yang sebaliknya, menyia-nyiakan datangnya bulan suci Ramadhan ini, padahal pada bulan suci ini segala amal ibadah pahalanya berlipat-lipat, doa-doa terkabul, pintu surga terbuka lebar, pintu neraka tertutup rapat dan Baca lebih lanjut