Togetherness

Kebersamaan bukan semata interaksi yang dibangun agar bisa saling bicara atau untuk saling berbagi cerita. Kebersamaan bukan pula sebatas sarana mengobati kesendirian, menghabiskan waktu untuk bercengkrama dan hura-hura. Lebih dari itu, kebersamaan membawa kita untuk saling memberi, menumbuhkan, saling menasehati dan mengingatkan. Umar bin Khattab : “Bertemu teman itu menghapus kesedihan, maka jika Allah mengaruniamu cinta kepada seseorang muslim, hendaklah kamu mengokohkan cintamu itu”.

Jika niat kebersamaan itu tulus, maka seseorang akan selalu memiliki pandangan positif terhadap relasinya. Dia akan punya alasan untuk menerimanya dan menyingkirkan kekurangannya. Imama Assyafii mengatakan :” Di antara tanda kebersamaan yang baik dan tulus adalah menerima kekurangan teman, menutupi kesalahannya dan memaafkan ketergelinicirannya.

Menguatkan kasih sayang itu akan menciptkan hubungan kuat diantara sesama teman, bahkan Allah akan menyatukan hati dan perasaan meraka meski mereka tidak saling bersama.

Di dalam kebersamaan yang kita bangun, ada sebuah proses mengikat jiwa dengan jiwa melalu perasaan empati, cinta, pemuliaan, dan banyak lagi hal positif yang lain. Akan tetapi dalam perjalanannya kebersamaan itu tidak melulu yang baik yang kita temukan . Kadang ada kekhilafan, ada kealfaan, ada tindak atau perkataan yang bisafat aniaya yang kadang terasa hampir melumat hancur kebersamaan itu sendiri.

Memberi maaf adalah salah satu cara menjaga kebersamaan itu, meski mungkin terasa berat untuk dilakukan. Namun ketika itu sanggup untuk diwujudkan, ekspresi apapun wujudnya, sikat itu akan membuat kita saling menumbuhkan saling menyatukan jiwa.

WaAllahu’alam